Pencarian
Bahasa Indonesia
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
Judul
Naskah
Berikutnya
 

Buddha atau Mesias Yang Kita Nantikan Hadir di Sini Sekarang, Bagian 3 dari 8

Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
Ketika saya masih sangat kecil, sebelum masuk sekolah dasar, di daerah kami yang kecil, kami hanya memiliki seorang biksu, tetapi dia sering datang ke kuil. Dan dalam berbagai festival, seperti Festival Vu Lan, dia juga membuat beberapa drama untuk dimainkan oleh para umat, untuk mengingatkan orang-orang untuk menjadi baik dan vegetarian, vegan. Saya juga bertemu dengan beberapa pendeta Tao di rumah. Bukan berarti mereka pergi ke kuil dan mencukur rambut mereka atau apa pun – para biksu melakukannya, para biksu Buddha melakukannya, tetapi beberapa penganut Tao membiarkan rambut mereka panjang, dan tinggal tepat di sebelah rumah bibi saya, misalnya. Mereka mungkin tidak mengajari saya secara pribadi; Saya masih kecil saat itu. Tapi siapa yang tahu? Mereka mungkin mengajari saya sesuatu dari dalam; dari roh, dari jiwa, dari hati, dari energi mereka.

Jadi sejak saya masih kecil, saya bahkan tidak bisa minum susu, dan saya muntah-muntah dan mengalami banyak masalah perut karena di rumah saya tidak selalu ada (makanan) vegetarian. Saya makan sayuran apa pun yang saya temukan. Dan saya memakan buah apa pun yang ada di kebun; bahkan sebelum mereka benar-benar matang, saya memakannya. Begitulah cara saya bertahan hidup. Dan ayah saya selalu mengolok-olok saya, mengatakan jika dia memberi saya 10 dolar, saya akan pergi keluar dan membeli semua pisang atau jagung. Dia tidak pernah mengatakan bahwa saya akan pergi keluar dan membeli ikan, daging insan-hewan atau udang, karena dia tahu.

Bersyukurlah kepada semua biksu di masa lalu, sekarang, dan masa depan. Anda mungkin bertemu mereka, Anda mungkin memperhatikan mereka, atau mungkin tidak, tetapi mereka adalah sesuatu yang menjaga keseimbangan di dunia ini dengan semua kekhawatiran duniawi dan semua ambisi untuk mendapatkan keuntungan duniawi yang menyelimuti manusia. […] Anda tidak tahu apakah biksu itu baik atau buruk. Anda tidak tahu isi hati mereka. Bahkan jika dia makan tiga kali sehari, dia punya mobil untuk berkeliling, jangan terlalu memikirkannya. Semua itu hanyalah hal-hal material. Dia tak bisa berbuat banyak dengan itu; dia tak bisa menyakiti siapa pun dengan itu. Dia tak mencuri apa pun; dia meminta sumbangan. Sang Buddha juga berkata, “Sumbangan untuk wihara, untuk para biksu, baik untuk Anda.” Jadi, dia (biksu itu) tidak mengatakan sesuatu yang salah, misalnya seperti itu.

Dan saya beri tahu Anda bahwa saya menyumbang untuk para biksu. Saya masih menyumbang – untuk membangun beberapa gubuk untuk para biksu di India. Dan setelah itu saya memberikan lebih banyak uang agar mereka bisa membeli lebih banyak makanan (vegan), lebih banyak selimut dan sebagainya – bukan hanya uang di awal untuk membangun gubuk. Jadi, apa pun yang saya katakan, saya sendiri juga melakukannya. Bukannya saya mencoba melatih Anda melakukan sesuatu dan saya sendiri melakukan yang sebaliknya. Ngomong-ngomong, Anda tak harus melakukan itu; saya hanya memberi tahu, tetapi Anda tidak perlu melakukan apa pun jika Anda tidak mau. Itu pilihan Anda, hidup Anda – untuk memilih menjadi baik atau tidak baik. Anda memiliki Tuhan di dalam diri Anda – Sifat Buddha atau Sifat Tuhan di dalam diri Anda. Itu adalah satu dan sama. Dan jika Anda memilih untuk menjadi seperti Tuhan lagi atau seperti Buddha lagi, maka lakukanlah. Itu baik untuk Anda, baik untuk dunia, baik untuk planet ini.

Saat ini dunia kita berada dalam bahaya besar. Setiap saat, ia bisa runtuh. Saya beri tahu Anda sekarang karena saya juga tidak yakin apakah saya bisa bertahan. Saya masih belum fit untuk bekerja, karena di dalam, saya belum cukup sehat. Jadi saya harus memulihkan diri. Hanya karena banyak dari Anda begitu khawatir, maka saya memberi tahu Anda satu atau dua hal, untuk terus mengingatkan Anda kapan pun saya bisa. Saya belum cukup fit untuk bekerja keras untuk Supreme Master TV, misalnya.

Nah, para biksu, seperti yang saya katakan, mereka juga manusia. Mereka mungkin belum berada di level yang sama [dengan Sang Buddha], tapi mereka sedang berusaha. Mereka menyasar untuk tiba di sana. Itu juga penting. Energi kerinduan ini, keinginan untuk menjadi Buddha lagi – menyatu kembali dengan Sang Asal, menyatu kembali dengan Tuhan – itu adalah energi yang sangat baik untuk menyeimbangkan dunia kita. Sekarang Anda tahu, seperti ketika Anda masih kecil, Anda hanya belajar ABC, tetapi Anda ingin belajar agar bisa kuliah nanti, dan itu sangat bagus.

Sekarang, ngomong-ngomong, berbicara tentang Tuhan, banyak orang akan berpikir bahwa para pengikut Buddha tidak percaya kepada Tuhan. Itu tidak benar. Karena misalnya, di Tiongkok, untuk segala sesuatu yang tidak baik, mereka akan berkata, “我的天啊” (“Wǒ de tiān a”), yang berarti, “Ya Tuhan!” Sama seperti yang Anda ucapkan dalam bahasa Inggris, hanya ekspresi yang berbeda, bahasa yang berbeda. Di India, ke mana pun Anda pergi, bahkan seorang gadis petani yang miskin dan tidak berpendidikan sekalipun akan menyapa Anda dengan “Ram Ram” atau “Hare Krishna.” Itu adalah nama Tuhan; itulah yang mereka yakini. Krishna adalah salah satu Guru, Perwakilan Tuhan; dan Ram juga, atau “Rama.” Sekarang, ada terlalu banyak hal, saya tidak berekspektasi bahwa Anda mengetahui semua ini. Tetapi jika Anda mau, Anda bisa. Sekarang ini sangat mudah – buka saja internet, dan Anda akan mengetahui banyak hal tentang agama; banyak buku-buku yang sebelumnya tidak tersedia dengan mudah bagi semua biksu dan biksuni – saya hanya berbicara tentang ajaran Buddha.

Saya tahu bahwa ada banyak orang yang mengikuti Buddha untuk menjadi seorang biksu untuk berada di samping-Nya setiap hari, karena tidak ada cara lain bagi mereka untuk mendengarkan ajaran Sang Buddha. Itu sebabnya mereka pergi mengemis di pagi hari, makan di siang hari, kemudian di sore hari, mereka siap untuk mendengarkan Sang Buddha. Sama juga dengan Sang Buddha; Dia juga makan seperti itu. Jadi mereka semua punya waktu untuk kebutuhan yang lebih besar – Dharma (Ajaran) yang sejati. Jadi, jika Anda berpikir bahwa umat Buddha tidak percaya pada Tuhan, itu tidak benar. Itu tidak benar.

Di semua agama, semuanya menyebutkan Tuhan. Ketika seseorang bertanya kepada Sang Buddha, “Apakah Tuhan itu ada?” Sang Buddha menjawab, “Aku tidak dapat mengatakan apakah Tuhan itu ada atau tidak, tetapi ada Sesuatu yang darinya segala sesuatu menjadi eksis, dan kepada-Nya segala sesuatu akan kembali.” Dan jika itu bukan Tuhan, beri tahu saya apa itu? Dalam agama-agama lain, mereka mengatakannya dengan lebih lugas. Mereka bilang Tuhan menciptakan kita dalam Gambar-Nya. Itulah Asal-Usul kita; kita adalah anak-anak Tuhan, dan kita akan kembali kepada ke-Tuhan-an itu.

Jadi, jangan berdebat lagi dengan saya tentang apakah Tuhan itu ada atau tidak, atau bahwa menyembah Tuhan itu bukanlah agama Buddha. Tetapi di semua agama, kebanyakan mereka mengikuti para Guru yang merupakan Perwakilan Tuhan – agama apa pun yang mengaku bahwa mereka memiliki Tuhan atau ajaran Dharma Sejati di dalamnya, mereka menghormati para Guru. Mereka mengikuti para Guru; mereka menyembah para Guru; mereka percaya kepada para Guru. Dan bahkan ada yang menyatakan, “Jika Tuhan dan Guru berdiri di sampingku, kepada Siapa aku harus bersujud? Siapa yang harus aku ikuti? Aku mengikuti Guru. Karena Guru adalah Dia yang mengajariku, yang mengangkatku dari kesengsaraan, mengangkatku dari siklus kelahiran dan kematian.”

Hal ini ditekankan dalam mayoritas agama – setidaknya di India. Di India, mereka sangat menghormati Guru. Jadi, mereka menyebut Buddha sebagai “Yang Dihormati Dunia”, “Maharaji”, “Guru”, atau apa pun. Itu karena mereka hanya melihat Para Guru; mereka jarang melihat Tuhan. Tidak semua orang seberuntung itu untuk bisa melihat Tuhan. Jadi, ketika Tuhan Yesus masih hidup, Dia berkhotbah tentang Tuhan, dan menyuruh orang-orang untuk percaya, menyembah Tuhan. Tetapi mereka juga mengikuti ajaran Tuhan Yesus, mereka mengikuti-Nya. Sama halnya ketika Buddha masih hidup; mereka semua pergi dan memuji Buddha dan mencintai Buddha. Sama halnya dengan para Guru lain dalam agama Sikh, atau agama Islam, agama Hindu, atau agama Jain. Mereka semua pergi dan memuja para Guru dari representasi agama mereka masing-masing pada saat itu. Dan semuanya seperti itu. Jadi, para pengikut, mereka selalu menyembah para Guru pilihan mereka, pada masa mereka. Tetapi di balik pikiran mereka, mereka semua tahu bahwa Tuhan itu ada.

Dan saya beri tahu Anda sekarang, saya hanya mengajarkan agama universal. Kita memiliki Tuhan, lalu kita memiliki para Guru. Jadi, bahkan, Guru adalah Dia Yang secara pribadi mengajari kita dan memberi kita pengajaran dan berkah serta membantu kita dengan cara apa pun, tetapi Tuhan itu ada. Sama seperti orang tua Anda; mereka sangat kaya dan berkuasa, tetapi mereka harus bekerja di berbagai bidang. Atau di rumah, mereka punya pembantu, mereka bahkan punya ibu susu yang merawat Anda dari kecil. Dan, tentu saja, Anda menyayangi ibu susu itu karena dia menghabiskan banyak waktu bersama Anda. Dia bermain dengan Anda, memanjakan Anda, mencintai Anda dan melakukan apa pun yang Anda inginkan. Tapi itu karena otoritas orang tua Anda, karena prestise orang tua Anda, karena gaji orang tua Anda. Jadi, Anda harus berbakti kepada orang tua Anda, apa pun yang terjadi.

Jadi, apa pun agama yang Anda anut, Anda harus ingat bahwa ada Tuhan di baliknya. Karena sebelum Sang Guru turun ke Bumi, siapakah yang telah memberikan keberadaan kepada Guru itu? Jadi, jangan pernah melupakan Tuhan Yang Mahakuasa – Asal-Usul segala sesuatu, dan juga Asal keberadaan Anda. Di Âu Lạc (Vietnam), ketika kita berdoa – orang biasa, mereka tidak harus beragama Buddha atau apa pun, atau tidak perlu tahu banyak tentang ajaran Buddha – kami berkata, “Oh, Tuhan dan Buddha, tolong berkati aku.” Atau, “Tuhan dan Buddha tahu apa yang kulakukan.” Mereka juga menyebut Tuhan. Dan orang Tiongkok juga. Saya tidak tahu banyak tentang negara-negara lain karena saya tidak bisa bahasa mereka, tapi saya yakin mereka akan melakukan hal yang sama.

Photo Caption: Kecil atau Besar Kita Saling Membantu dan Meningkatkan

Unduh Foto   

Bagikan
Bagikan ke
Lampirkan
Mulai pada
Unduh
Mobile
Mobile
iPhone
Android
Tonton di peramban seluler
GO
GO
Prompt
OK
Aplikasi
Pindai kode QR, atau pilih sistem telepon yang tepat untuk mengunduh
iPhone
Android